INFO & CERITA UNTUK PARA JOMBLO

MODUS ITU PERLU

Ini ada sebuah kisah lama. Kisah jaman jahiliyah tepatnya. Sebuah kisah yang sebenarnya penuh dengan aib. Tapi bagaimana pun juga, aib nya sengaja tidak di umbar lah, biar Alloh saja yang tahu aib kita.

Masih inget, waktu itu sedang ikut-ikutan teman buat ‘mbolang’ ke Jember. Naik turun bus antar kota, cukup lama menggelandang di beberapa kota sebelum akhirnya tiba dan NUMPANG di kost salah satu temannya teman di Jember.

Itulah gunanya bersosialisasi. Dari satu teman akan mendatangkan satu atau lebih teman yang baru yang meski kadang bikin sesat, namun banyak juga manfaatnya. Salah satunya ya itu tadi, buat numpang tidur. Hehehe…

Masih terekam jelas dalam memoriku, siapa aku saat itu. Sesorang yang sedang demam bersosialisasi dan menambah TEMAN baru, khususnya dengan makhluk yang biasa disebut sebagai perempuan. Karena memang waktu itu belum musim demam Mobile Legend, COC apalagi Pokemon Go.

Singkat cerita, dimana pun ada perempuan, disitulah ada ruang untuk bersosialisasi, berkenalan dan… mendapatkan nomor handphone. Karena mendapatkan nomor handphone itu ibarat mendapatkan hadiah jackpot saat kita mainan di timez*ne. Tidak peduli itu sedang beli juice di seberang kost, menghentikan beberapa mahasiswi yang sedang melintas di depan kost, pokoknya dimanapun ada kesempatan, disitu pasti ada jalan. Lahhhhh….
Untungnya, saat itu para perempuan masih juga mudah untuk bersosialisasi. Tidak seperti saat ini yang suka bilang MODUS, bahkan suka ngatain KEPO ketika ada yang serius bertanya kepadanya tentang sesuatu.
Senja mulai berganti malam, masyarakat yang tinggal di dalam perut pun mulai gedor-gedor seperti para tahanan yang minta makan. Aku dan ketiga temanku yang notabene anak kost dan laki-laki semua, memutuskan untuk berjalan menelusuri jalanan di sekitaran kampus UNEJ untuk mencari sesuap nasi (tanpa segenggam berlian).
Nasib anak kost, lapar, kepingin makan, tapi yang sekalian bisa jadi tempat nongkrong dan scanning target. Target apa nih…?!? Ah, nanti juga tahu sendiri.
Akhirnya kami masuk ke Quickchi***n yang waktu itu masih baru opening.

Sebagaimana biasa, kalau ada tempat makan baru, pasti banyak kalangan maba-maba dan anak nongkrong yang datang biar dibilang kekinian.

Setibanya di Quickchi***n, aku segera ke wastafel untuk sekedar cuci muka, sementara ketiga temanku terlihat sedang berdiskusi. Aku pikir mereka sedang berdiskusi untuk memesan makanan apa, atau sedang patungan untuk beli makanannya. Tapi saat aku lihat tatapan matanya, ternyata sedang mengarah pada beberapa perempuan yang sedang menyeberang jalan dan berjalan ke tempat kami. Lebih tepatnya, berjalan ke arah tempat makan yang kami singgahi.

“Anak kedokteran itu,” bisik Oci, salah satu temanku.
“Udah, pesen makan dulu sana,” kataku.
“Bang, berani kenalan sama anak-anak itu?” Tantang Oci.
“Berani lah,” sahutku.
“Itu anak kedokteran lho, bang.”
“Emang kenapa?”
“Biasanya suka jual mahal gitu kalau diajak kenalan.”
“Tahu darimana kalau itu anak kedokteran? Kenal aja enggak,” bantahku.
“Dari gayanya itu tuh… Rambut panjang, anaknya bersih-bersih, cantik-cantik.”
“Haisshh… Udah, pesen makan dulu,” sahutku.
Dengan masih sedikit penasaran, Oci pun memesan makanan. Sementara aku seperti biasa, nitip pesan menu spesialnya tempat makan siap saji, apapun itu. Tanpa pikir panjang, saat aku lihat tiga dari empat perempuan tadi sudah mengambil posisi duduk yang nyaman, aku pun menghampirinya dan memanfaatkan satu kursi kosong untuk memulai berinteraksi sama mereka.
“Hai, ganggu waktunya sebentar nggak apa-apa ya,” kataku membuka percakapan.
“Aku duduk sini ya.”
“Eng, itu…” sela salah satu diantara mereka.
“Iya, aku tahu,” sahutku.
“Temenmu lagi pesen makan, kan… Tuh, lagi ngantri sama temenku juga tuh. Aku cuman bentar aja kok, nggak lama-lama.”
“Jadi gini, aku tuh kan orangnya suka main kartu ya. Aku punya permainan, tapi ini bukan untuk ngeramal nasib gitu loh ya… Ini murni permainan…”
Saat itu, kemana pun aku pergi, satu pak kartu bicycle tidak pernah lupa aku bawa. Beberapa permainan yang bisa memberikan WOW effect pun lumayan mahir untuk aku mainkan, sehingga first impression yang aku ciptakan bisa membuat perempuan tertarik. Walaupun ketertarikan awal adalah pada permainannya, bukan pada orangnya. Hahahaha… 

Sama seperti malam itu, beberapa dari mereka terlihat mulai tertarik dengan permainanku, meski sempat ada kegagalan pada gimmick trick yang aku mainkan, tapi situasinya masih bisa aku kendalikan.
“Kok bisa berubah gitu, sih… Padahal kan itu tadi…” Tanya salah satu dari mereka keheranan.
“Ya bisa, dong… Ngomong-ngomong, sebelum kesini tadi kamu udah makan ya?” Tanyaku mengalihkan perhatian.
“Maksudnya…?”
“Itu… Ada biji cabe di gigi kamu. Habis makan apa sih..?” Tanyaku polos.
Seketika wajah perempuan yang berinteraksi denganku pun memerah karena malu.

Damn! Jujur ya, padahal sebenarnya tidak ada biji cabe di giginya. Aku hanya menciptakan “jleb” moment aja biar dia selalu mengingat kejadian yang menurutnya pasti memalukan. Padahal sebenarnya itu hanya communication trick alias MODUS.

“Udah kok, nggak ada biji cabenya. Udah ketelen, kali.” Aku lanjutkan perkataanku untuk menenangkannya.
“Oh iya, kita belum kenalan. Aku Max,” kataku sambil memberikan tangan.
“Febri”
“Halla”
Satu lagi siapa ya, lupa. Hahahaha…
“Jadi gini, aku masih punya satu permainan lagi. Ini adalah permainan untuk melatih kekuatan pikiran. Jadi, aku bisa nebak apa yang kamu tulis, dan jawabannya pasti sama persis. Percaya nggak…?”
Tidak ada jawaban. Hanya saja dari tatapan matanya ada sedikit rasa penasaran yang disembunyikannya.
“Ok, jadi gini…” Tanpa menunggu persetujuannya, aku pun melanjutkan permainannya.
“Febri, kamu kirim sms ke Halla, dua kata. Habis itu aku kirim sms jawabanku ke Halla, dan terakhir, Halla baca dengan keras isi smsnya, pasti sama persis.”
Permainan pun aku mulai sesuai dengan instruksi yang aku berikan. Febri mulai mengetik sms dan mengirimkan pada Halla.
“Sudah dikirim, ok… dilihat saja, nggak usah ditunjukin ke siapa pun ya. Sekarang biar aku tebak, biar aku kirimin sms yang isinya sama persis,” kataku meyakinkan.
“Harus lewat sms, ya..?” Sepertinya dia sudah mencium modus yang aku lancarkan.
“Iya, dong! Kalau aku bilang langsung ya nggak seru lah,” jawabku penuh percaya diri.
“Ini aku udah ketik nih, tinggal ngirimin smsnya. Berapa nomornya?”
Tanpa berpikir panjang, Halla pun memberikan nomor handphone nya. Aku pun segera mengirim sms. Tak berapa lama, sms pun diterima oleh Halla.
“Kok nggak sama… Bohong nih!” Sahut Halla.
“Coba dibaca yang keras…”
“SAMA PERSIS,” kata Halla agak ragu saat membaca sms ku.
“Tuh, kan… Aku bilang apa… Pasti isi smsnya SAMA PERSIS,” sahutku.
Halla baru sadar kalau dia baru saja kena jebakan communication trick yang baru saja aku mainkan.
“Hahaha… Nggak boleh ngambek. Ya udah ya, permainannya dilanjut next time kalau kita bisa ketemu lagi. Itu makananku udah datang tuh. Thanks buat waktunya. Jangan lupa simpan nomorku.”
Aku pun bergegas kembali menghampiri teman-temanku yang sudah mulai menyantap makanan yang dipesan.
Beberapa hari berselang, ketika aku sudah meninggalkan Jember, kota yang bagiku menyimpan beberapa kisah konyol dan seru, akhirnya aku pun tahu kalau mereka ternyata bukanlah Anak Kedokteran sebagaimana yang dipikirkan oleh salah satu temanku. Dan beruntung, hingga saat ini pun aku masih berhubungan baik dengan Halla, salah satu orang yang sudah terkena jebakan Batman.
Biar dikata MODUS, asalkan tujuannya baik, untuk sekedar bersosialisasi, menambah teman, menambah ‘saudara’, MODUS itu sah-sah saja, bahkan menurutku MODUS ITU PERLU.
Bagaimana menurut pendapat kalian…???

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *